Saturday, 20 October 2012
Ketika Dia Datang
Written by : ENDAH SETYO LARAS
Dalam takdir, setiap insan cinta adalah sesuatu makna yang luas, cinta itu mengagumkan bahkan terkadang membosankan. Cinta itu indah namun cinta juga bisa menyakitkan. Berat rasanya menggambarkan apa itu cinta dalam kehidupan kita.
Di suatu malam yang kelabu, udara seperti berhenti bergerak, lampu kota menghiasi setiap sudut kota.
Di luar kerumunan orang banyak terlihat 2 insan yang sedang dimabuk cinta. Canda tawanya terdengar seperti kecerian kecerian, namun canda tawa itu tak berlangsung lama, lelaki itu, dia tampaknya ingin bicara sesuatu pada kekasihnya. Ntah apa yang membuatnya melakukan hal yang seperti itu, dia berkata jujur kepada kekasihnya bahwa ia sudah menemukan cinta yang baru, memang dia harus jujur sekarang, karna cepat atau lambat kekasihnya harus tau kenyataan ini. Lintang, gadis manis yang menjadi kekasih lelaki itu, hanya bisa terdiam, menundukan wajahnya ke tanah, seakan ia tak percaya ini sedang terjadi padanya, 4 tahun yang sudah dilalui bersamanya kini terbuang sia-sia karna orang ke 3 yang masuk dalam hubungannya.
Air mata terus menetes, tangan mengepal, kini ia merasakan sakit yang teramat dalam. Rasa sayang yang dulu ia miliki kini berubah menjadi rasa benci yang teramat dalam. Lintang tidak bisa menahan dirinya untuk bisa tetap duduk di sampingnya, ia memutuskan untuk pergi menjauhinya. Tak lama kemudian sosoknya hilang di balik keramaian, laki-laki itu hanya bisa diam mematung tanpa bisa berbuat apapun untuk menahan gadis itu.
Hari-hari yang dilalui Lintang memang cukup berat, seusai kuliahnya, ia lebih memilih untuk mengurung diri di kamar menumpahkan rasa sakitnya ke dalam buku berwarna biru muda, terkadang juga ia meneteskan darah dari hidungnya. Setiap hari ia terus saja melakukan hal yang sama seperti itu, rasa sakit yang teramat dalam yang membuatnya seperti ini, dia bagaikan jiwa tanpa nyawa, kesadarannya seakan hilang.
Disuatu pagi yang tenang Lintang menyusuri pinggiran jalan kota, mengharapkan keberkahan pagi yang ceria setelah merasakan sakit pada malam itu, malam yang tak bisa ia lupakan.
Dia berusaha mencari ketenangan untuk mengalihkan pikirannya yang 'over mind'. Dia memilih duduk di cafe di pinggiran jalan baraja, ya ini tempat dimana ia sering bercanda gurau dengannya, namun kini ia telah pergi.
Cafe yang cukup sederhana namun terlihat terkesan berkelas dengan tanaman edelweis putih dan mawar-mawar di jendela cafe itu, serta lilin tamaram yang menghiasi setiap meja yang menambah kesan romantika di dalamnya.
Setelah memesan, ia membuka buku berwarna biru muda tersebut yang menjadi buku diarynya.
Memang kelihatannya usang, namun cukup berarti baginya. Lembaran-lembaran usang ia perhatikan, dia ingat kenangan-kenangan di dalamnya yang begitu berarti.
Jika waktu dapat terulang, ingin rasanya mengapus kenangan itu dari perjalanan hidupnya, tetapi bagaimanapun juga kenangan itu kembali terulang bahkan bisa dibilang menetap di memorinya.
“Ketika ia lihat lelaki itu bersama kekasihnya yang baru,” “ketika ia lihat lelaki itu bergurau dengan kekasihnya.” “Ketika ia dengar lelaki itu menelepon kekasihnya.”
ketika. .Ketika. .Ketika
seberapa banyak kata 'ketika' yang ingin dia hapus dari catatannya itu? Terlalu banyak kata 'ketika' yang membuatnya sesak, membuatnya menangis, membuatnya hampir tidak mengenari dirinya sendiri.
Dia terdiam sedih di cafe itu dengan ditemani secangkir kopi hangat pesanannya. Tak terasa air matanya seketika jatuh di meja kayu itu.
"maaf mungkin kau butuh ini" laki-laki yang sedari tadi duduk membelakanginya, memberikan uluran tangan yang menyodorkan sebuah sapu tangan abu-abu terlhat lumayan kusam.
Lintang sepertinya teringat sesuatu pada sapu tangan itu, tapi apa?
"terimakasih" dia mengambil sapu tangan dari tangan laki-laki itu.
"namaku galang" lelaki itu mulai memperkenalkan namanya terlebih dahulu.
"galang, aku lintang" jawabnya sembari menghapus air matanya.
"maaf aku sudah mengganggumu"
"tidak apa-apa, aku sedang merenung menikmati suasana di sini"
"begitu ya, kalau tidak salah kau mahasiswa semester 6 kedokteran UI bukan?"
"bagaimana kau tau? Kau juga kuliah disana?"
"tidak, aku tahu karna kakaku juga kuliah disana"
"begitu" Lintang tampaknya tidak ingin tahu tentang kakanya, memang sebenarnya dia juga ada rasa penasaran tentang kakanya.
Obrolan itupun menjadi awal pertemuan mereka berdua yang tak terfikirkan sebelumnya kalau mereka bisa sampai ke tahap ini.
Ya tahap pacaran. Mereka berdua memutuskan berpacaran setelah kurang lebih menjalani kedekatan ini selama 3 bulan terakhir.
Dia memang lelaki sempurna, tampan, cukup sukses untuk ukuran laki-laki berumur 20 tahun yang menjadi owner cafe yang berdiri di jalan Baraja itu.
Tak hanya kemapanan, tetapi dia pandai, pandai membuat kekasihnya tenang, selain itu juga dia pandai menyembunyikan identitas kakanya yang Lintang tak tahu darinya.
10 bulan mereka menjalani tahap ini, kesedihan Lintang berangsur-angsur surut dari benak hatinya,
pagi itu pagi yang cukup indah, mereka duduk berdua di bangku taman menikmati burung-burung yang sedang bercanda gurau.
Kepala Lintang mulai direbahkan di bahu Galang, "kau kenapa?" tanya lelaki itu, matanya melihat Lintang yang sedang menghembuskan nafas panjang.
"tak terasa kita sejauh ini, aku ingat ketika hari ulang tahunmu, waktu itu aku tidak menyangka kau suka kue tiramisu" jawab nada rendah dari gadis itu.
" kue tiramisu itu bisa membuat rasa sakitku hilang ditambah jika kau yang menemaniku makan kue itu, itu bisa membuatku tenang. " mata lelaki itu tampak berkaca-kaca, seakan tak ingin semuanya hilang, ia menutupkan bola matanya, menahan air mata yang ingin menetes.
**--**
sementara lelaki yang telah menyakiti perasaan Lintang kini tengah berada di dalam cafe Baraja, melihat kekasih barunya yang sedang asyik mengobrol dengan lelaki lain, ia melihat dari kejauhan dan berusaha mendekati kekasihnya.
"hah? Gilang? Dia itu cuma gue manfaatin doang, aku hanya suka kamu sayang" gadis bernama Lisa itu berkata dengan bangganya kepada lelaki yang duduk di depannya. "cewek berengsek gue sekarang tahu akal liciknya, dia bisa-bisanya selingkuh di belakang gue, kenapa gue setotol ini! Gue ninggalin Lintang hanya untuk Lisa?" Gilang berkata dalam hati.
Langsung dia berjalan menghampiri meja kekasihnya itu.
"oh jadi gini kelakuan lo!" Gilang tampak terlihat kesal "gu. .gue bisa jelasin Lang" suara terbata-bata keluar dari mulut Lisa "nyesel gue sama lo!" Gilang pergi dari tempat itu, menghilang di keramaian orang banyak.
tampaknya karma sedang terjadi padanya. Dia terus memikirkan kalau dia harus meminta maaf kepada Lintang yang telah ia sakiti waktu itu.
**--**
malam itu Lintang menerima telepon, mulutnya tebuka menganga, air matanya menetes, ia menerima kabar soal Galang, Galang terkena musibah, motor yang dikendarainya menabrak sisi jalan yang membuatnya koma. Berhari-hari Lintang menemani Galang di rumah sakit, namun Galang hanya bisa membuka mata dan mulutnya.
**--**
Hari ini, hari yang cukup istimewa bagi pasangan kekasih itu, hari anniversary Lintang dengan Galang.
Memang di hari anniversary yang pertama ini tidak terlalu baik, dengan keadaan Galang yang terbaring lemah di rumah sakit.
Pagi ini Lintang membawakan kue tiramisu dan bubur ayam bandung kesukaan Galang. Semua kesukannya ini mengingatkan sesuatu pada laki-laki yang telah melukainya, namun ia tak mau ambil susah.
"Galang.. Bangun sayang, aku bawa apa tebak?"
Galang menengokkan kepalanya ke arah Lintang, dia masih belum bisa bicara.
"aku membawakan kue tiramisu kesukaanmu, kau pernah bilang rasa sakitmu hilang jika ada aku dan tiramisu ini kan?" seyum gadis itu melebar, seyum yang selalu Galang inginkan, namun Galang tetap mematung.
Sudah 4 hari ini dia diam seperti itu, namun gadis yang ada di sampingnya tak henti-henti menghibur hatinya. Dia selalu menemani Galang disaat ia membutuhkannya. Setiap hari gadis itu selalu membacakan novel kesukaannya, 'kisah totto-chan' yang ceria, yang membuatnya senang, memang dalam benak hati Galang sangat senang bisa menjadi kekasih gadis itu.
Namun Lintang merasa ini adalah kewajibanku sebagai orang yang ada di dekat Galang. Ia merasa bimbang, adakah rasa sayang? Dia tak bisa membedakan rasa sayang dan rasa kasihan.
Separah inikah Lintang diam-diam mengkhianati Galang yang tebaring lemah di ranjang.A itu?
Dia berusa menahan air matanya namun ia tidak bisa, ia lebih memilih untuk meninggalkan Galang sejak, karna ia tau jika ia menangis itu hanya menambah kesedihan yang sedang Galang rasakan.
**--**
sementara Gilang mantan kekasih Lintang, terpikir untuk menemui adiknya yang sudah 1 bulang di rumah sakit, ia berniat untuk membawakan kue tiramisu kesukaan adiknya itu, Gilang sangat menyayangi adik laki-lakinya itu, sesampai di rumah sakit gilang membuka pintu bernomor 24-C , dimana adiknya terbaring di kamar itu, ia melihat di samping tempat tidur adiknya terdapat kue tiramisu, gilang tak mau ambil pusing, mungkin itu hanya kue tiramisu dari temannya.
Sampai ketika, suara orang membukakan pintu terdengar, ia tersentak kaget. Dia melihat gadis yang telah disakitinya masuk ke kamar adiknya.
**--**
Lintang tampaknya sekarang sudah bisa mengendalikan air matanya, ia berniat untuk menemui galang kembali, tapi dia malah meneteskan air matanya kembali melihat lelaki yang dulu telah melukainya.
"mau apa kau kemari! Ada urusan apa kau kemari!" nada pelan namun terdengar kesal dari mulut Lintang.
"dia adikku, Lintang kau mau memaafkanku"
Lintang belum sempat menjawab.
Tiba-tiba perhatian mereka berpaling ke arah Galang yang terbangun dari tidurnya,
"kaka? Lintang? Kalian kenapa? Kalian itu pasangan serasi. Kaka? Aku iri padamu, aku iri kau bisa mendapatkan pasangan seperti Lintang, aku iri ka, kau bisa bertahan dengannya selama 4 tahun, sedangkan aku? Aku hanya satu tahun"
Lintang terus saja menangis air matanya terus mengalir, ia tak bisa menahan kesedihan ini, tangan kanannya menutupi mulutnya sendiri seakan tidak percaya akan hal ini. Sementara gilang hanya bisa diam mematung.
"kaka? Aku ingin kau menjaga Lintang lagi, jangan kau sakiti lagi, aku tidak tahan dengan dengan keadaan ini, keadaan yang harus memilih antara kaka kandungku dengan orang yang ku cintai" mata Galang terpejam.
Bunyi bising terdengar dari alat yang berada di samping tempat tidurnya.
Kesedihan Lintang kali ini tidak dapat terbendung lagi ia menghampiri Galang dan memeluk Galang ia berharap Galang akan terbangun dari tidur yang panjang ini.
Namun takdir ini tak bisa terhindarkan, Galang telah kembali ke sisi-NYA , yang ia bisa lakukan hanyalah menangisi Galang tanpa henti.
**--tamat--**
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment